Jujur memang sebuah pilihan. Pilihan yang terkadang berat apabila hanya melihat sekeliling lingkungan saja. Salah satu contoh sederhananya jujur ketika ujian. Dari SD sampai sekarang aku masih berusaha untuk bertindak jujur. Yah, jujur ni walaupun terkadang aku masih saja mengedepankan “rasa” yang lain. *istigfar….
Ujian datang banyak strategi percontekan yang muncul. Memfotocopi diperkecil, menulis pada tangan, mengandalkan hp, senam jari, keluarnya jurus kedip-kedip haha dan masih banyak lagi. Sejak dulu aku sama aja, paling sulit membuat contekan atau suruh nyontek. (Harusnya aku bersyukur ya…. atas kelebihan nggak bisa nyontekku, haha) Kalau disuruh nyontek pasti keringat lebih mengucur dibandingkan ujian aslinya.. *parah,,,
Alhamdulillah, setiap kali ujian pasti diri merasa ada pengawas yang selalu mengawasiku
pengawas yang selalu mencatat gerak gerikku.
Walau terkadang hasil yang didapatkan kurang maksimal, aku yakin itu bukan masalah karena kejujuran. Tapi mungkin, kurang maksinalnya diri ini dalam berusaha. Semoga dengan sadarnya aku, bisa memperbaiki diri lebih baik dan lebih memaksimalkan usahaku.
Nilai ujian keluar, Hati kadang tidak terima kalau ada teman yang dalam ujian hanya mengandalkan mencontek dapat nilai yang lebih baik. Salah satu cara menenangkan diri ya isi sugesti kalimat positif pada diri. Allah akan menyiapkan yang terbaik. Bila kurang maksimal, maka harus lebih berusaha dan berdoa lagi. Aku yakin Jujur tak akan membawa kehancuran, tapi jujur akan keberkahan
